Lewati ke konten
Koreksi refraksi

Kejang akomodasi (Miopia semu)

1. Apa itu Ketegangan Akomodasi (Miopia Palsu)?

Section titled “1. Apa itu Ketegangan Akomodasi (Miopia Palsu)?”

Ketegangan akomodasi (tonic accommodation) adalah kondisi patologis di mana terjadi miopia palsu akibat keadaan tonus abnormal (hipertonus) yang melebihi rentang fisiologis otot siliaris. Terdiri dari dua jenis: tonus fisiologis (ketegangan minimal yang diperlukan otot siliaris) dan tonus abnormal.

Kejang akomodasi (spasm of accommodation) adalah keadaan akomodasi berlebihan, yang dibagi menjadi fungsional dan organik berdasarkan penyebabnya. Kejang akomodasi fungsional adalah gejala akibat kelelahan otot akomodasi, di mana terdapat hipertonus otot akomodasi saat fiksasi. Kejang akomodasi organik terjadi pada keadaan stimulasi parasimpatis, dan merupakan kontraksi otot akomodasi involunter yang tidak bertujuan.

Kejang konvergensi (convergence spasm) adalah keadaan di mana kedua mata beradduksi secara paroksismal dan menetap. Disebut juga kejang refleks dekat (spasms of the near reflex) karena disertai kejang akomodasi dan miosis. 1)

Pseudomiopia (pseudomyopia) adalah konsep bahwa pekerjaan jarak dekat yang terus-menerus menyebabkan pseudomiopia, yang kemudian berubah menjadi miopia sejati. Berdasarkan etiologi, diklasifikasikan menjadi 4 tipe berikut:

KlasifikasiPatologi
Kejang akomodasiKelainan persarafan dekat
Miopia sementaraPerubahan patologis pada badan siliaris atau lensa
Akomodasi berlebihanPenanganan eksotropia atau hiperopia
Yang disebut pseudomiopiaDiagnosis salah akibat pemeriksaan refraksi yang tidak tepat

Gangguan akomodasi diklasifikasikan menjadi 6 tipe berikut.

  1. Akomodasi lemah (ill-sustained accommodation): Terjadi regresi titik dekat pada pengukuran berulang.
  2. Insufisiensi akomodasi (accommodative insufficiency): Kekuatan akomodasi lebih lemah dari yang sesuai usia.
  3. Inersia akomodasi (inertia of accommodation): Waktu akomodasi dari titik jauh ke titik dekat memanjang.
  4. Paralisis akomodasi (accommodative palsy): Gangguan penglihatan dekat onset akut dengan titik dekat yang sangat menjauh.
  5. Konstriksi akomodasi (accommodative constriction): Terdiri dari tonus fisiologis dan abnormal (menyebabkan pseudomiopia).
  6. Spasme akomodasi (spasm of accommodation): Keadaan akomodasi berlebih (fungsional atau organik).

Penyakit ini sering terjadi pada usia sekolah, dan cenderung meningkat seiring meningkatnya pekerjaan jarak dekat dan pekerjaan VDT. Spasme akomodasi organik jarang terjadi, dan sebagian besar bersifat psikogenik.

Spasme akomodasi tidak mudah membaik, dan yang berlangsung lama disebut pseudomiopia (pseudomyopia), yang telah dibedakan dari miopia sejati.

Dalam spektrum gangguan akomodasi, “spasme akomodasi” adalah contoh ekstrem dari akomodasi berlebih, sedangkan “akomodasi lemah” muncul sebagai kesulitan mempertahankan kekuatan akomodasi. Gejala kelelahan setelah pekerjaan VDT sebaiknya dipahami sebagai spektrum kontinu dari akomodasi lemah ke konstriksi akomodasi, dan selanjutnya ke spasme akomodasi.

Analisis HFC (komponen frekuensi tinggi) menggunakan alat analisis fungsi akomodasi (seperti Speedy-K) berguna untuk memahami kondisi patologis, dan berfungsi sebagai indikator objektif konstriksi dan spasme akomodasi. Rasa lelah mata sehari-hari mencerminkan nilai HFC yang tinggi.

Q Apa perbedaan antara pseudomiopia dan miopia sejati?
A

Pseudomiopia adalah miopia sementara akibat konstriksi akomodasi, dan kembali ke emetropia atau miopia ringan setelah pemeriksaan refraksi dengan tetes sikloplegik (Midrin P). Miopia sejati adalah miopia organik akibat pemanjangan sumbu aksial, dan tetap miopia meskipun di bawah sikloplegia. Pemeriksaan refraksi sikloplegik sangat penting untuk membedakan keduanya.

Gejala spasme akomodasi fungsional (miopia palsu) dan spasme akomodasi organik (spasme konvergensi) berbeda dalam manifestasinya.

Spasme Akomodasi Fungsional (Miopia Palsu)

Penurunan ketajaman penglihatan jauh: Penglihatan jauh kabur setelah pekerjaan jarak dekat yang berkepanjangan

Astenopia: Kelelahan mata, ketidaknyamanan, sakit kepala

Fluktuasi ketajaman penglihatan: Memburuk setelah pekerjaan jarak dekat yang lama, membaik setelah istirahat

Perubahan refraksi: Pemeriksaan tanpa siklopegia menunjukkan gambaran seperti miopia

Spasme Akomodasi Organik (Spasme Konvergensi)

Esoforia akut: Esoforia berat bilateral yang menetap secara paroksismal

Diplopia: Diplopia homonim saat melihat jauh

Miosis: Miosis bilateral simultan

Gejala sistemik: Sering disertai mual, muntah, sakit kepala, nyeri mata

Analisis mikrogetaran akomodasi untuk ketegangan akomodasi (Fk-map): Pada pengamatan dengan alat analisis mikrogetaran akomodasi, Fk-map pada ketegangan akomodasi menunjukkan nilai refraksi mengikuti stimulus akomodasi dengan baik, tetapi secara keseluruhan nilai HFC (komponen frekuensi tinggi) tinggi. Hal ini mencerminkan keluhan subjektif kelelahan mata sehari-hari.

Fk-map pada spasme akomodasi: Saat mencoba melihat stimulus yang ditampilkan, akomodasi bekerja berlebihan sehingga meningkatkan nilai refraksi. Nilai HFC juga tetap tinggi, menunjukkan bahwa mata berada dalam kondisi rentan terhadap kelelahan.

Perubahan refraksi: Terdapat perbedaan yang jelas antara nilai refraksi di bawah sikloplegia dan tanpa sikloplegia. Perbedaan ini setara dengan komponen miopia semu.

Q Apakah spasme akomodasi juga terjadi pada orang dewasa?
A

Juga terjadi pada pekerja VDT dewasa. 2) Terutama pada dewasa muda yang menggunakan smartphone atau komputer dalam waktu lama, muncul sebagai penurunan ketajaman penglihatan jauh setelah kerja dekat dan kelelahan mata. Spasme konvergensi organik juga sering pada dewasa, dan dapat terjadi pada semua usia baik secara psikogenik maupun fungsional.

Fungsional (kelelahan VDT / psikogenik)

Pekerjaan VDT / kerja dekat terus-menerus: Hipertonus otot akomodasi akibat kelelahan.

Psikogenik (gangguan konversi): Stres psikologis atau kecemasan sebagai pemicu.

Faktor lingkungan: Pencahayaan, jarak kerja, atau postur yang tidak tepat.

Penurunan frekuensi berkedip: Mempercepat terjadinya mata kering.

Organik (stimulasi parasimpatis)

Cedera kepala: Stimulasi pusat konvergensi.

Sklerosis multipel3): Pengaruh demielinasi sistem saraf pusat pada pusat konvergensi.

Ensefalopati metabolik atau tumor: Lesi organik pada tingkat dorsal otak tengah.

Malformasi Arnold-Chiari: Malformasi kongenital fossa posterior.

Keracunan obat: Keracunan pestisida organofosfat atau sarin menyebabkan pupil sangat kecil (pinhole pupil) dan spasme akomodasi.

Tetes mata antikolinesterase untuk mengangkat kelopak mata: Dapat menyebabkan miosis dan kejang akomodasi

Pada banyak kasus kejang konvergensi, tidak ditemukan penyakit organik, dan penyebab utamanya adalah psikogenik seperti gangguan konversi (histeria). Dapat juga terjadi akibat peningkatan iritabilitas pusat konvergensi di tingkat dorsal mesensefalon atau lesi organik yang merangsang mekanisme saraf konvergensi, tetapi sangat jarang.

Faktor risiko kejang akomodasi fungsional:

  • Durasi kerja VDT: penggunaan lama setiap hari (lebih dari 5 jam sebagai patokan)
  • Jarak kerja: jarak dekat 30-40 cm atau kurang (penggunaan smartphone berisiko sangat tinggi)
  • Lingkungan kerja: pencahayaan tidak tepat, postur tubuh buruk, tanpa istirahat
  • Usia: 10-30 tahun (daya akomodasi tinggi sehingga mudah tegang)
  • Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi atau koreksi tidak tepat: meningkatkan upaya akomodasi

Faktor risiko kejang akomodasi organik:

  • Riwayat trauma kepala
  • Penyakit sistem saraf pusat seperti multiple sclerosis
  • Keracunan pestisida organofosfat atau sarin
  • Tetes mata antikolinesterase untuk mengangkat kelopak mata
  • Lesi fossa posterior seperti malformasi Arnold-Chiari

Latar Belakang Kejang Akomodasi Psikogenik:

Pada pasien dengan gangguan konversi atau gangguan psikosomatik, stres psikologis dan kecemasan memicu respons dekat yang menyebabkan kejang akomodasi. Stres berat di lingkungan kelas (seperti perundungan atau ujian) sering dikaitkan dengan timbulnya miopia palsu pada usia sekolah. Setelah penyebab organik disingkirkan dan diagnosis psikogenik ditegakkan, menghilangkan kecemasan pasien dan mengurangi stres hidup merupakan inti pengobatan. Kolaborasi dengan psikiatri atau psikosomatik mungkin diperlukan.

Pemeriksaan fluktuasi akomodasi halus Speedy-K pada pasien kejang akomodasi: Pola dominan komponen frekuensi tinggi (HFC) menetap di kedua mata, menunjukkan kejang akomodasi
Pemeriksaan fluktuasi akomodasi halus Speedy-K pada pasien kejang akomodasi: Pola dominan komponen frekuensi tinggi (HFC) menetap di kedua mata, menunjukkan kejang akomodasi
Ueki S, et al. Spasm of Near Reflex in a Patient with Autism Spectrum Disorder: A Case Report. Reports (MDPI). 2023;6(3):38. Figure 1. PMCID: PMC12225246. DOI: 10.3390/reports6030038. License: CC BY 4.0.
Analisis fluktuasi akomodasi halus dengan Speedy K (perusahaan Raiton) menunjukkan bahwa HFC (komponen frekuensi tinggi) dominan di seluruh area pada kedua mata (batang merah), mengonfirmasi pola kejang akomodasi yang menetap dari waktu ke waktu. Ini sesuai dengan temuan objektif kejang akomodasi yang dibahas di bagian “Diagnosis dan Metode Pemeriksaan”.

Diagnosis terutama didasarkan pada temuan klinis dan pemeriksaan refraksi di bawah sikloplegia.

① Anamnesis dan pemeriksaan ketajaman penglihatan: Periksa secara rinci waktu kerja dekat/penggunaan VDT, lingkungan kerja, dan pengobatan (misalnya psikotropika, antialergi). Ukur ketajaman penglihatan jauh dan dekat, serta periksa variasi berdasarkan waktu atau setelah istirahat.

② Pemeriksaan refraksi tanpa sikloplegia: Ukur nilai refraksi dalam keadaan akomodasi aktif.

③ Pemeriksaan refraksi di bawah sikloplegia (wajib untuk diagnosis pasti): Teteskan Mydrin P® (kombinasi tropikamid 0,5% dan fenilefrin 0,5%), lalu ulangi pemeriksaan refraksi setelah 30-60 menit. Jika refraksi kembali ke emetropia atau hiperopia ringan di bawah sikloplegia, maka miopia palsu (kejang akomodasi) dapat dipastikan. Jika miopia tetap ada meskipun di bawah sikloplegia, itu adalah miopia sejati. Pada kasus berat, pertimbangkan tetes sikloplegik kuat seperti sikloplegin® (siklopentolat 1%) untuk pemeriksaan refraksi presisi.

④ Pemeriksaan fungsi akomodasi: Pengukuran titik dekat (pengukuran titik dekat berulang), analisis HFC dengan alat analisis fungsi akomodasi.

⑤ Pemeriksaan posisi mata dan konvergensi: Pada kejang konvergensi, diamati esotropia tinggi paroksismal. Penting untuk melakukan uji gerakan mata tunggal.

⑥ Analisis patofisiologi (bila perlu): Pengukuran simultan akomodasi, miosis, dan konvergensi menggunakan sensor gelombang binokular membantu memahami kondisi.

PemeriksaanTujuanMiopia PalsuMiopia Sejati
Pemeriksaan refraksi di bawah sikloplegiaDiagnosis pastiKembali ke emetropia atau hiperopia ringanTetap miopia
Pengukuran titik dekatPenilaian daya akomodasiFluktuasi berulangStabil
Fk-map (analisis HFC)Kuantifikasi ketegangan akomodasiHFC tinggiNormal hingga kelainan ringan
Pemeriksaan posisi mataPenilaian spasme konvergensiEksotropia paroksismal (spasme konvergensi)Normal

Penting untuk membedakan dari penyakit-penyakit berikut:

PenyakitPoin Diagnosis Banding
Miopia sejatiMiopia tetap ada meskipun di bawah sikloplegia. Terdapat pemanjangan aksial
Paralisis saraf abdusen bilateralTidak disertai miosis atau gangguan akomodasi. Terdapat asimetri
Paralisis divergensi (insufisiensi divergensi)Tidak disertai gangguan akomodasi atau kelainan pupil
Esoforia akut komitanTidak disertai miosis atau spasme akomodasi
Miastenia gravis4)Ptosis, mudah lelah. Tidak ada miosis atau spasme akomodasi
Sklerosis multipel3)Disertai temuan neurologis lainnya

Kejang konvergensi ditandai dengan tiga serangkai: esotropia tinggi + miosis + kejang akomodasi. Dalam diagnosis banding dengan paralisis saraf abdusen, kunci utamanya adalah melakukan tes gerakan mata tunggal (monocular duction).

Q Bagaimana membedakan paralisis saraf abdusen dengan kejang konvergensi?
A

Pada paralisis saraf abdusen, tidak disertai miosis atau gangguan akomodasi, dan keterbatasan abduksi bersifat unilateral dan tidak bervariasi. Pada kejang akomodasi/konvergensi, keterbatasan abduksi menghilang saat melakukan tes gerakan mata tunggal, dan miosis juga menghilang. Selain itu, sudut konvergensi sangat bervariasi. Lihat bagian “Metode Diagnosis dan Pemeriksaan” untuk detail.

Pengobatan Kejang Akomodasi Fungsional (Miopia Palsu)

Perbaikan Lingkungan (Pilihan Pertama): Mencari dan menghilangkan penyebab adalah prioritas utama. Pekerjaan VDT dibatasi maksimal 1 jam berturut-turut, kemudian istirahat 10-15 menit.

Resep Kacamata Khusus Jarak Dekat: Resepkan kacamata khusus jarak dekat yang sesuai dengan jarak kerja dekat. Kacamata progresif jarak menengah-dekat (mid-near progressive) sesuai. Kacamata progresif jarak jauh-dekat tidak sesuai karena bagian dekatnya kecil. Lensa progresif yang dirancang sesuai lingkungan kerja VDT efektif mencegah terjadinya technostress eye syndrome.

Tetes Mata Mydrin M (Tropikamid 0,4%): Diteteskan sekali sebelum tidur untuk merelaksasi otot siliaris. Obat siklopegik (penghambat parasimpatis) merelaksasi otot siliaris dan mengurangi ketegangan. Penetesan sebelum tidur untuk menghindari efek dilatasi pupil terhadap fungsi penglihatan siang hari.

Minum Vitamin B: Digunakan untuk memelihara dan memperbaiki fungsi saraf.

Penanganan Mata Kering yang Menyertai: Pada mata kering akibat penurunan frekuensi berkedip, gunakan air mata buatan dan tetes yang mengandung asam hialuronat.

Pengobatan Kejang Akomodasi Organik (Kejang Konvergensi)

Prioritas Pengobatan Penyebab: Jika penyebabnya adalah penyakit organik, pengobatan penyakit primer adalah prioritas. Jika ada temuan neurologis atau sistemik, lakukan pemeriksaan pencitraan secara aktif.

Dukungan Psikologis: Pada kasus psikogenik (non-organik), berupaya menghilangkan kecemasan pasien.

Penutupan Satu Mata: Kadang efektif untuk menghilangkan kejang konvergensi.

Tetes Mata Siklopegik: Dilakukan jika kejang berlanjut (misalnya atropin).

Perbaikan spontan: Sebagian besar kasus membaik secara spontan.

Poin-poin Bimbingan Lingkungan dan Perilaku

Section titled “Poin-poin Bimbingan Lingkungan dan Perilaku”

Panduan untuk pasien dengan spasme akomodasi fungsional dan miopia palsu akibat pekerjaan VDT:

Perbaikan lingkungan kerja VDT:

  • Jaga jarak kerja 30-40 cm (terutama jangan terlalu dekat dengan smartphone)
  • Batas waktu kerja terus-menerus adalah 1 jam, dan wajib istirahat 10-15 menit
  • Saat istirahat, lihat ke jauh untuk merelaksasi otot siliaris
  • Atur ketinggian monitor sedikit di bawah garis pandang mata
  • Pastikan pencahayaan cukup dan cegah silau
  • Hindari hembusan AC atau pemanas langsung ke wajah atau mata

Aturan penggunaan layar:

  • Terapkan aturan 20-20-20 (setiap 20 menit, lihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik)
  • Hindari menggunakan smartphone sambil berbaring, jaga jarak layar minimal 40 cm
  • Hindari penggunaan ponsel pintar sebelum tidur
  • Memiliki kesadaran untuk mencatat dan mengelola total waktu layar harian

Perhatian khusus untuk anak-anak: Pada kejang akomodasi (miopia palsu) usia sekolah, pemeriksaan refraksi akurat di bawah sikloplegia sangat penting untuk membedakan dari miopia sejati. Pembatasan waktu penggunaan ponsel pintar/tablet dan memastikan aktivitas luar ruangan (disarankan minimal 2 jam per hari) penting untuk pencegahan kejang akomodasi dan penekanan progresi miopia.

Evaluasi Efektivitas Terapi dan Tindak Lanjut

Section titled “Evaluasi Efektivitas Terapi dan Tindak Lanjut”

Evaluasi pasca-terapi kejang akomodasi fungsional:

  • Perubahan gejala subjektif: Memastikan perbaikan penurunan ketajaman penglihatan jarak jauh dan gejala kelelahan mata
  • Perbaikan ketajaman penglihatan: Perbandingan ketajaman penglihatan terkoreksi jarak jauh sebelum dan sesudah terapi
  • Reevaluasi fungsi akomodasi: Pengukuran ulang refraksi di bawah sikloplegia 2-4 minggu setelah terapi
  • Perubahan Fk-map: Memastikan normalisasi nilai HFC (indikator objektif efektivitas terapi)
  • Konfirmasi lingkungan kerja VDT: Memastikan bahwa instruksi telah dilaksanakan

Untuk mencegah kekambuhan, perbaikan lingkungan yang berkelanjutan sangat penting. Bahkan setelah pasien merasa ‘membaik’, jika kebiasaan kerja VDT tidak diperbaiki, kemungkinan besar akan kambuh. Terutama pada usia sekolah dan remaja, jika kecanduan ponsel pintar atau game menjadi akar masalah, diperlukan kerja sama dengan orang tua dan sekolah.

Perjalanan kejang konvergensi organik:

Pada kejang konvergensi organik, prioritas utama adalah pengobatan dan pemantauan penyakit dasar. Pada kasus psikogenik, sebagian besar sembuh spontan, tetapi dukungan mental dan tindak lanjut rutin penting. Karena ada kasus di mana penyakit neurologis sejati (seperti multiple sclerosis) muncul dalam perjalanan jangka panjang, pemeriksaan neurologis terperinci dan pencitraan (MRI) jika perlu tidak boleh diabaikan dalam evaluasi awal.

Koeksistensi Miopia Palsu dan Miopia Sejati

Section titled “Koeksistensi Miopia Palsu dan Miopia Sejati”

Poin penting secara klinis adalah adanya tipe campuran di mana komponen miopia palsu dan miopia sejati hidup berdampingan. Ini terjadi ketika jumlah miopia berkurang pada pemeriksaan refraksi di bawah sikloplegia tetapi tidak kembali sepenuhnya ke emetropia. Pada tipe campuran ini:

  • Nilai refraksi di bawah sikloplegia digunakan sebagai referensi untuk resep (komponen miopia sejati).
  • Perbedaan sebelum dan sesudah sikloplegia (komponen miopia palsu) diukur dan dijadikan target pengobatan.
  • Evaluasi ulang secara berkala dilakukan untuk melihat apakah komponen miopia palsu telah membaik.

Terutama pada usia sekolah, sering ditemukan tipe campuran pada kunjungan pertama. Perbaikan lingkungan dan pengobatan sikloplegia dapat memperbaiki komponen miopia palsu, sehingga kadang-kadang diharapkan penurunan derajat resep. Namun, untuk mencegah progresivitas miopia sejati, diperlukan pertimbangan pengobatan penghambat progresivitas miopia seperti tetes atropin konsentrasi rendah atau orthokeratology.

Prognosis kejang akomodasi fungsional (miopia palsu):

  • Dalam banyak kasus, membaik dalam 2-4 minggu dengan perbaikan lingkungan dan pengobatan yang tepat.
  • Untuk mencegah kekambuhan, perbaikan gaya hidup secara berkelanjutan sangat penting.
  • Jika terdapat miopia sejati yang laten, diperlukan resep kacamata korektif yang sesuai setelah pengobatan miopia palsu.
  • Karena miopia palsu pada usia sekolah dapat menjadi pertanda progresivitas miopia sejati, lakukan observasi berkala secara teratur.

Prognosis kejang konvergensi organik:

  • Tergantung pada perjalanan pengobatan penyakit primer.
  • Pada kasus psikogenik, prognosis yang baik dapat diharapkan.
  • Pada kasus yang didasari penyakit neurologis, tergantung pada progresivitas penyakit primer.
Q Apakah bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan?
A

Pada kasus psikogenik, sebagian besar kasus membaik secara spontan. Pada kasus fungsional (kelelahan VDT), sering membaik dengan perbaikan lingkungan VDT, penggunaan kacamata yang sesuai, dan tetes air mata buatan. Namun, pada kasus organik, diperlukan pengobatan penyakit penyebab, dan jika dibiarkan, mungkin tidak membaik.

Refleks dekat (near reflex) adalah respons fisiologis yang terjadi saat melihat objek dekat, di mana konvergensi, akomodasi, dan miosis terjadi secara bersamaan sebagai gerakan asosiatif binokular supranuklear. Hal-hal ini tidak dapat dipisahkan secara sadar.

Serabut supranuklear ke nukleus Edinger-Westphal (EW) untuk refleks dekat berjalan di ventral dari area pretektal mesensefalon dan komisura posterior, tempat serabut aferen refleks cahaya lewat. Rasio neuron di ganglion siliaris yang terlibat dalam refleks cahaya dan refleks akomodasi adalah 3:97, dengan sel yang terlibat dalam akomodasi mendominasi secara signifikan.

Detail Persarafan:

Jalur saraf refleks akomodasi:

  1. Korteks parieto-oksipital (korteks asosiasi visual) → Pusat akomodasi dan konvergensi di mesensefalon
  2. Nukleus Edinger-Westphal (EW) → Ganglion siliaris
  3. Saraf siliaris pendek → Otot siliaris (kontraksi → akomodasi) & Otot sfingter pupil (kontraksi → miosis)

Tergantung pada bagian mana dari jalur ini yang mengalami kelainan yang menyebabkan spasme akomodasi, diklasifikasikan menjadi fungsional (kelelahan/psikogenik) dan organik (gangguan saraf).

Disosiasi dari Refleks Cahaya:

Refleks dekat (miosis, akomodasi, konvergensi) dikendalikan melalui jalur yang berbeda secara anatomis dari jalur refleks cahaya. Jalur aferen refleks cahaya melewati area pretektal mesensefalon, sedangkan jalur aferen refleks dekat berjalan lebih ventral. Oleh karena itu, pada pupil Argyll-Robertson (disebabkan oleh lesi mesensefalon akibat sifilis, diabetes, dll.), refleks cahaya hilang tetapi refleks dekat (miosis) tetap ada, menghasilkan “disosiasi cahaya-dekat”. Disosiasi ini merupakan konsep penting dalam pemahaman neuroanatomis spasme konvergensi.

Hubungan Timbal Balik antara Akomodasi, Konvergensi, dan Miosis:

Ketiga elemen refleks dekat tidak terjadi secara independen, tetapi biasanya berfungsi secara terkoordinasi. Hubungan ini dapat diringkas sebagai berikut:

  • Rasio Akomodasi-Konvergensi (AC/A): Rasio berapa banyak prisma dioptri (Δ) konvergensi yang terjadi terhadap perubahan akomodasi sebesar 1 D.
  • Akomodasi Konvergensi (CA/C): Perubahan akomodasi yang terjadi akibat perubahan konvergensi.
  • Kaitan antara miosis dan akomodasi: Miosis saat akomodasi meningkatkan kedalaman fokus, sehingga memperbaiki ketajaman penglihatan dekat.

Pada spasme akomodasi, konvergensi dan miosis juga meningkat seiring dengan peningkatan akomodasi. Sebaliknya, pada kelemahan akomodasi, dapat terjadi insufisiensi konvergensi dan midriasis relatif yang terkait dengan kegagalan akomodasi. Memahami hubungan timbal balik ini memperjelas kegunaan pemeriksaan yang mengukur ketiga elemen secara simultan (sensor muka gelombang, alat pengukur respons dekat).

Mekanisme terjadinya ketegangan akomodasi dan spasme akomodasi

Section titled “Mekanisme terjadinya ketegangan akomodasi dan spasme akomodasi”

Mekanisme terjadinya spasme akomodasi berbeda tergantung penyebabnya.

Spasme akomodasi fungsional: Pekerjaan VDT atau tugas dekat yang berkepanjangan menyebabkan otot siliaris kelelahan dan mengalami relaksasi yang tidak memadai. Hal ini menyebabkan miopia dan astenopia yang menetap. Pada peta Fk ketegangan akomodasi, nilai refraksi mengikuti target dengan baik, tetapi nilai HFC secara keseluruhan tinggi, mencerminkan kelelahan mata.

Spasme akomodasi: Pada peta Fk, saat mencoba melihat target yang disajikan, akomodasi bekerja berlebihan sehingga memperkuat nilai refraksi. Nilai HFC juga tetap tinggi. Kondisi yang tidak mudah membaik dan berlangsung lama disebut miopia palsu.

Tonus abnormal pada ketegangan akomodasi: Terjadi akibat relaksasi otot siliaris yang tidak adekuat secara terus-menerus. Hal ini mempertahankan lensa dalam keadaan cembung (miopia), menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan jauh dan astenopia.

Spasme konvergensi terjadi karena peningkatan iritabilitas pusat konvergensi di tingkat dorsal mesensefalon, atau karena lesi organik yang merangsang mekanisme saraf konvergensi. Pada gangguan konversi (psikogenik), stres psikologis diduga memicu respons dekat, menyebabkan kontraksi konvergensi involunter yang menetap.

Pseudo sixth nerve palsy (Kelumpuhan saraf abdusen palsu):

Spasme konvergensi kadang salah didiagnosis sebagai kelumpuhan saraf abdusen. Kondisi ini disebut pseudo sixth nerve palsy. Untuk membedakannya, digunakan tes gerakan tarik monokular. Pada kelumpuhan saraf abdusen, keterbatasan abduksi tidak berubah saat satu mata ditutup, sedangkan pada spasme konvergensi, adduksi dan miosis menghilang dan abduksi menjadi normal pada tes tarik monokular, yang merupakan temuan diferensial yang menentukan.

7. Penelitian terbaru dan prospek masa depan

Section titled “7. Penelitian terbaru dan prospek masa depan”

Seiring meluasnya penggunaan ponsel pintar dan konsol game, laporan mengenai spasme akomodasi pada usia muda meningkat. Penggunaan layar jarak dekat dalam waktu lama diduga memicu ketegangan otot akomodasi yang terus-menerus, dan menjadi perhatian sebagai faktor peningkatan spasme akomodasi fungsional.

Setelah pandemi COVID-19, waktu layar pada anak-anak meningkat dua kali lipat (1,9 jam → 3,9 jam), dan dilaporkan peningkatan ketegangan akomodasi serta miopia palsu 7). Usia ≥14 tahun, jenis kelamin laki-laki, dan penggunaan perangkat >5 jam per hari diidentifikasi sebagai faktor risiko 9).

Prevalensi kelelahan mata digital (DES) meningkat hingga 74% (95% CI: 66–81%) selama pandemi COVID-19 8), dan peningkatan waktu layar menjadi pemicu penting ketegangan akomodasi 10). Penelitian terus dilakukan mengenai pengobatan miopia palsu dengan siklopegik dan kaitannya dengan penghambatan progresi miopia 12).

TFOS (Tear Film & Ocular Surface Society) menunjukkan bahwa suplementasi asam lemak omega-3 merupakan intervensi nutrisi dengan tingkat bukti tertinggi dalam penanganan kelelahan mata digital 13). Selain itu, penelitian tentang disintegrasi koordinasi tiga komponen respons penglihatan dekat setelah kerja VDT juga berkembang 6).

Hubungan antara esotropia akut didapat komitan (AACE) pada anak-anak dengan penggunaan ponsel pintar dalam waktu lama juga telah dilaporkan 11), dan perhatian tertuju pada dampaknya terhadap sistem konvergensi dan akomodasi. Penanganan ketegangan akomodasi dan spasme konvergensi memerlukan evaluasi fungsi penglihatan binokular 5), dan diperlukan pendekatan komprehensif sebagai penyakit mata terkait perangkat digital 14)15)16).

  1. Goldstein JH. Spasm of the near reflex: a spectrum of anomalies. Surv Ophthalmol. 1996;40(4):269-278.

  2. Hussaindeen JR. Acute adult onset comitant esotropia associated with accommodative spasm. Optom Vis Sci. 2014;91(4 Suppl 1):S46-51.

  3. Sitole S. Spasm of the near reflex in a patient with multiple sclerosis. Semin Ophthalmol. 2007;22(1):29-31.

  4. Rosenberg ML. Spasm of the near reflex mimicking myasthenia gravis. J Clin Neuroophthalmol. 1986;6(2):106-8.

  5. Wolffsohn JS, et al. TFOS Lifestyle: Impact of the digital environment on the ocular surface. Ocul Surf. 2023;30:213-252.

  6. Pavel IA, et al. Computer Vision Syndrome: An Ophthalmic Pathology of the Modern Era. Medicina. 2023;59:412.

  7. Bhattacharya S, et al. Let There Be Light-Digital Eye Strain (DES) in Children as a Shadow Pandemic. Front Public Health. 2022;10:945082.

  8. León-Figueroa DA, et al. Prevalence of computer vision syndrome during the COVID-19 pandemic. BMC Public Health. 2024;24:640.

  9. Song F, Liu Y, Zhao Z, et al. Clinical manifestations, prevalence, and risk factors of asthenopia: a systematic review and meta-analysis. J Glob Health. 2026;16:04053.

  10. Kaur K, et al. Digital Eye Strain- A Comprehensive Review. Ophthalmol Ther. 2022;11:1655-1680.

  11. Thakur M, Panicker T, Satgunam P. Refractive error changes and associated asthenopia observed after COVID-19 infection: Case reports from two continents. Indian J Ophthalmol. 2023;71:2592-2594.

  12. Anbesu EW, Lema. Prevalence of computer vision syndrome. Sci Rep. 2023;13:1801.

  13. Downie LE, et al. TFOS Lifestyle: Impact of the digital environment on the ocular surface – Management and treatment. Ocul Surf. 2023;30:253-285.

  14. Barata MJ, et al. A Review of Digital Eye Strain: Binocular Vision Anomalies, Ocular Surface Changes. J Eye Mov Res. 2025.

  15. Lem DW, et al. Can Nutrition Play a Role in Ameliorating Digital Eye Strain? Nutrients. 2022;14(19):4005.

  16. Ueki S, et al. Spasm of Near Reflex in a Patient with Autism Spectrum Disorder: A Case Report. Reports (MDPI). 2023;6(3):38.

Salin teks artikel dan tempelkan ke asisten AI pilihan Anda.