Koma adalah keadaan tidak sadar yang berkepanjangan di mana seseorang tidak merespons rangsangan eksternal, baik ada atau tidak adanya rangsangan berbahaya. Disebabkan oleh kerusakan otak yang parah, dengan berbagai etiologi seperti trauma, stroke, tumor otak, kelainan gula darah berat, hipoksia serebral berkepanjangan, kejang epilepsi, dan keracunan obat.
Pasien koma kehilangan kemampuan berpikir dan kesadaran lingkungan. Sebagian besar pulih secara bertahap, tetapi dapat beralih ke gangguan kesadaran berkepanjangan (keadaan vegetatif) atau kematian. Hasil akhir sangat bergantung pada penyebab, keparahan, dan lokasi kerusakan neurologis.
Skala Koma Glasgow (GCS) banyak digunakan untuk menilai keparahan koma. Menilai respons membuka mata, respons verbal, dan respons motorik; skor di bawah 8 umumnya menunjukkan keadaan koma. Namun, GCS tidak mencakup pemeriksaan gerakan mata.
Skor FOUR (Full Outline of Unresponsiveness) adalah metode alternatif yang menilai respons mata, respons motorik, refleks batang otak, dan pernapasan. Baik GCS maupun skor FOUR merupakan prediktor hasil akhir yang sangat baik.
Tujuan utama pemeriksaan neuro-oftalmologi pada pasien koma adalah untuk membantu mengidentifikasi penyebab, lokasi, dan tingkat keparahan koma. Temuan pada kelopak mata, pupil, gerakan mata, dan fundus mencerminkan tingkat disfungsi batang otak. Hilangnya refleks pupil terhadap cahaya merupakan salah satu prediktor prognosis buruk pada cedera otak traumatik.
QApa perbedaan antara GCS dan FOUR score?
A
GCS menilai tiga komponen: buka mata, respons verbal, dan respons motorik, tetapi tidak mencakup gerakan mata. FOUR score menilai empat komponen: respons mata, respons motorik, refleks batang otak, dan pernapasan, yang mencerminkan fungsi batang otak secara lebih rinci. Keduanya berguna sebagai prediktor luaran.
Pasien koma kehilangan kesadaran dan tidak dapat mengeluhkan gejala subjektif. Sebelum mencapai koma (tahap awal penurunan kesadaran), dapat didahului oleh sakit kepala, mual muntah, penurunan ketajaman penglihatan, diplopia, dan kebingungan.
Temuan Klinis (Temuan yang Dikonfirmasi Dokter saat Pemeriksaan)
Temuan neuro-oftalmologis pada pasien koma dibagi menjadi temuan pupil, gerakan mata spontan, posisi dan gerakan mata, kelopak mata, dan temuan fundus.
Refleks pupil terhadap cahaya mudah diperiksa dan berhubungan langsung dengan diagnosis lokasi penyebab koma. Pertama, amati diameter pupil di tempat terang dan gelap untuk memeriksa adanya anisokoria. Sorotkan cahaya ke satu mata, catat reaktivitas kedua mata (cepat, lambat, tidak ada respons). Uji senter ayun digunakan untuk mendeteksi defek pupil aferen relatif.
Jika terdapat anisokoria, tentukan mata yang sakit berdasarkan ukuran dan kecepatan reaksi pupil. Mata yang tidak bereaksi atau bereaksi lebih lambat adalah mata yang sakit.
Metode konfirmasi: Diagnosis dengan tetes mata kokain atau apraklonidin.
Pupil Argyll Robertson adalah kondisi di mana refleks cahaya menghilang sementara refleks akomodasi (konvergensi) tetap ada, menunjukkan disosiasi cahaya-akomodasi. Penyebabnya adalah lesi di bagian dorsal otak tengah (area pretectal), dan terjadi pada neurosifilis, diabetes, gangguan serebrovaskular, dan penyakit demielinasi.
Untuk menilai ada tidaknya gerakan mata volunter, kelopak mata dibuka secara pasif dan diamati gerakan yang bertujuan. Jika gerakan mata bertujuan terlihat pada pasien yang tidak responsif, curigai katatonia, locked-in syndrome, atau koma palsu.
Gerakan mata roving: Deviasi konjugat bilateral horizontal yang lambat. Terlihat pada koma dangkal dan menunjukkan penyebab supranuklear (kortikal) seperti intoksikasi, penyakit metabolik, atau lesi hemisfer serebri bilateral.
Ocular bobbing: Gerakan konjugat cepat kedua mata ke bawah diikuti kembali lambat ke posisi tengah. Terkait dengan lesi struktural pontin (infark, perdarahan) dan mencerminkan gangguan jalur sakad vertikal akibat kerusakan paramedian pontine reticular formation (PPRF) atau omnipause neurons1).
Ocular dipping (inverse bobbing): Gerakan lambat ke bawah diikuti cepat kembali ke posisi tengah. Sering terjadi pada cedera otak hipoksik-iskemik dan mencerminkan penekanan fungsi kortikal dengan relatif terpeliharanya refleks batang otak1).
Reverse bobbing: Gerakan cepat ke atas diikuti dengan kembalinya secara perlahan ke posisi tengah ke bawah. Sering terjadi pada ensefalopati metabolik (ensefalopati hepatik atau uremik) dan menunjukkan disfungsi kortikal difus1).
Deviasi konjugat (Conjugate gaze deviation): Pada lesi yang melibatkan lapang pandang frontal, terjadi deviasi ke sisi lesi; pada lesi pons, terjadi deviasi ke sisi yang berlawanan.
Kelumpuhan saraf kranial: Pada kelumpuhan saraf kranial III, mata menghadap ke bawah dan ke luar; pada kelumpuhan saraf kranial VI, mata menyimpang ke dalam.
Deviasi miring (Skew deviation): Deviasi vertikal pada kedua mata dapat terjadi akibat lesi batang otak.
Gerakan mata mengejar (Smooth pursuit): Jika terlihat mengikuti objek bergerak, ini menunjukkan bahwa pasien tidak dalam keadaan vegetatif, setidaknya dalam keadaan kesadaran minimal.
Edema papilsaraf optik (papil edema kongestif): Menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial akibat tumor atau perdarahan intrakranial. Peningkatan tekanan di ruang subarachnoid di sekitar saraf optik menyebabkan stagnasi aliran aksonal, mengakibatkan edema papil. Ditemukan kemerahan dan pembengkakan papil pada kedua mata, batas tidak jelas, perdarahan dan bercak putih pada permukaan papil, serta dilatasi vena.
Sindrom Terson: Suatu kondisi di mana peningkatan tekanan intrakranial akut akibat perdarahan subarachnoid atau cedera otak traumatik menyebabkan perdarahan vitreus, subretina, intraretina, dan preretina.
QJika satu pupil melebar dan tidak bereaksi, apa yang harus dicurigai?
A
Curigai pupil Hutchinson. Ini adalah tanda darurat akibat kompresi saraf okulomotor oleh herniasi otak (herniasi unkus). Namun, midriasis farmakologis akibat tetes atropin atau patch skopolamin juga menunjukkan temuan serupa, sehingga penting untuk membedakannya dengan tetes pilokarpin 1%. Lihat bagian «Temuan Klinis» untuk detail.
Penyebab koma secara umum dibagi menjadi penyebab struktural dan penyebab sistemik/metabolik.
Cedera Otak Traumatik (TBI): Kerusakan langsung pada parenkim otak akibat trauma kepala. Reaksi pupil terhadap cahaya merupakan salah satu prediktor prognosis buruk.
Gangguan Serebrovaskular: Perdarahan otak (putamen, talamus, pons, serebelum) atau perdarahan subarachnoid. Pola temuan pupil dan gangguan gerakan mata berbeda tergantung lokasi perdarahan.
Tumor Otak: Menyebabkan koma melalui tekanan langsung atau peningkatan tekanan intrakranial.
Tes refleks cahaya adalah metode pemeriksaan yang paling dasar dan penting. Di ruangan setengah gelap, cahaya senter diarahkan ke satu mata, dan periksa reaksi langsung (konstriksi pupil pada mata yang disinari) dan reaksi tidak langsung (konstriksi pupil pada mata yang tidak disinari). Amati apakah reaksinya cepat atau lambat, dan apakah derajat konstriksi pupil cukup atau tidak.
Tes swinging flashlight adalah pemeriksaan untuk mendeteksi RAPD, dengan merangsang mata kanan dan kiri secara bergantian menggunakan senter dan mengamati perubahan diameter pupil. Jika pupil pada mata yang disinari tidak dapat mempertahankan konstriksi dan malah melebar, maka dinyatakan positif RAPD. Kondisi ini positif pada gangguan saraf optik satu mata atau retinopati berat.
Untuk membedakan midriasis akibat obat, tes tetes pilokarpin 1% berguna. Pupil yang mengalami atropinisasi tidak bereaksi terhadap pilokarpin dan tidak mengalami konstriksi, sehingga dapat dibedakan dari kelumpuhan saraf okulomotor.
Untuk diagnosis sindrom Horner, digunakan tes tetes apraklonidin. Setelah diteteskan pada kedua mata dan diamati 30-45 menit kemudian, mata sehat tidak berubah, sedangkan pada mata sakit terjadi dilatasi pupil dan perbaikan ptosis.
Dilakukan setelah memastikan stabilitas tulang belakang leher. Dengan kelopak mata terbuka, kepala diputar cepat ke kiri dan kanan, dan gerakan mata diamati.
Temuan positif (mata bergerak konjugat ke arah berlawanan dengan putaran kepala): Menunjukkan bahwa saraf kranial III, VI, VIII, nukleus yang sesuai di otak tengah dan pons, serta sistem vestibular utuh di kedua sisi.
Temuan negatif (mata terfiksasi di posisi tengah atau bergerak searah dengan kepala): Menunjukkan disfungsi batang otak pada tingkat otak tengah hingga pons.
Dilakukan setelah memastikan membran timpani normal. Sejumlah kecil air yang 7°C lebih hangat (air hangat) atau lebih dingin (air dingin) dari suhu tubuh dimasukkan ke dalam liang telinga.
Temuan positif: Nistagmus konjugat horizontal muncul. Air dingin menyebabkan fase cepat nistagmus ke sisi berlawanan, air hangat ke sisi yang sama (COWS: Cold Opposite, Warm Same).
Prediksi prognosis: Temuan positif merupakan prediktor kuat untuk pemulihan dari keadaan vegetatif (nilai prediktif positif = 0,93). Dilaporkan bahwa hilangnya refleks vestibulo-okular memprediksi kematian otak 100%.
Temuan negatif: Menunjukkan koma metabolik dalam, kerusakan vestibular, atau disfungsi batang otak setinggi otak tengah hingga pons.
Stimulus taktil seperti kapas diberikan pada permukaan kornea, dan hasil positif jika terlihat kedipan bilateral. Respons positif menunjukkan saraf kranial V dan VII utuh di kedua sisi. Hilangnya refleks menunjukkan lesi pada saraf kranial V dan/atau VII dan/atau pons.
Tangan digerakkan cepat ke arah mata pasien dari berbagai arah untuk memicu refleks kedip. Membantu menilai adanya masukan aferen (penglihatan yang utuh).
QBagaimana interpretasi jika tidak ada respons pada tes stimulasi suhu?
A
Temuan negatif menunjukkan koma metabolik dalam, kerusakan vestibular, atau disfungsi batang otak setinggi otak tengah hingga pons. Hilangnya refleks vestibulo-okular dilaporkan memprediksi kematian otak 100%, sehingga menjadi temuan yang sangat penting dalam penentuan prognosis. Lihat bagian “Pemeriksaan Refleks Vestibulo-Okular” untuk detailnya.
Dari temuan neuro-oftalmologis pada pasien koma, lokasi lesi dapat diperkirakan. Berikut pola temuan khas berdasarkan lokasi perdarahan pada penyakit serebrovaskular.
Refleks cahaya pupil terdiri dari jalur aferen (retina → saraf optik → area pretectal → nukleus EW) dan jalur eferen (nukleus EW → saraf okulomotor → ganglion siliaris → sfingter pupil). Jalur eferen untuk refleks akomodasi sama dengan refleks cahaya, tetapi serat supranuklear ke nukleus EW berjalan di ventral area pretectal mesensefalon dan komisura posterior yang dilalui serat aferen refleks cahaya. Oleh karena itu, lesi pada area pretectal menyebabkan disosiasi refleks cahaya-akomodasi.
Rasio sel saraf yang terlibat dalam refleks cahaya dan refleks akomodasi di ganglion siliaris dilaporkan 3:97. Karena rasio ini, meskipun refleks cahaya terganggu, miosis akibat refleks akomodasi cenderung tetap terjaga.
Pada lesi pontin, terutama perdarahan pontin, diameter pupil mengecil hingga sekitar 1 mm. Diperkirakan terdapat jalur asenden dari formasio retikularis paramedian medula oblongata yang menghambat nukleus Edinger-Westphal (EW), dan kerusakan serat inhibisi ini menyebabkan eksitasi abnormal nukleus EW sehingga terjadi miosis berat. Refleks cahaya dan refleks akomodasi tetap utuh.
Bola mata klasik biasanya terkait dengan lesi ventral pons. Kerusakan pada formasi retikuler paramedian pontin (PPRF) dan neuron omnipause mengganggu supresi sakadik, menghasilkan sakadik vertikal yang tidak terkendali 1). Gangguan fungsi modulasi serebelum (nukleus fastigial serebelum) juga berkontribusi pada ketidakseimbangan antara fase cepat dan lambat 1).
Signifikansi klinis setiap varian berbeda. Bola mata klasik menunjukkan patologi batang otak ireversibel, sedangkan varian yang terkait dengan ensefalopati metabolik sering bersifat sementara dan reversibel 1).
QMengapa refleks akomodasi dapat tetap utuh meskipun refleks cahaya pupil menghilang?
A
Rasio neuron yang terlibat dalam refleks cahaya dan refleks akomodasi di ganglion siliaris adalah 3:97, sehingga jalur akomodasi dan konvergensi cenderung tetap utuh meskipun jalur refleks cahaya terganggu secara selektif. Selain itu, serat supranuklear untuk refleks konvergensi ke nukleus Edinger-Westphal berjalan lebih ventral daripada jalur refleks cahaya, menyebabkan disosiasi refleks cahaya-akomodasi pada lesi daerah pretectal mesensefalon.
7. Penelitian Terkini dan Prospek Masa Depan (Laporan Tahap Penelitian)
Beberapa variasi dari ocular bobbing dan hubungannya dengan lokalisasi klinis telah dilaporkan 1). Ocular bobbing klasik terkait dengan lesi struktural pons (infark/perdarahan), yang mencerminkan kerusakan jalur sakade vertikal dan pusat penahan pandangan. Inverse ocular bobbing lebih sering terjadi pada ensefalopati metabolik (hepatik/uremik), yang menunjukkan disfungsi kortikal difus, bukan lesi batang otak fokal. Ocular dipping sering terkait dengan cedera otak iskemik hipoksik, yang mencerminkan penekanan fungsi kortikal dan pelestarian relatif refleks batang otak. Reverse ocular dipping jarang terjadi dan ditemukan pada gangguan metabolik berat atau serebelar.
Dari analisis kasus berurutan PPG, usia median 60 tahun, laki-laki 12 dari 14 kasus. Siklus PPG berkisar 1,5–6,5 detik1). Penyebab utama adalah stroke iskemik akut, status pasca-kejang, dan ensefalopati hipoksik-iskemik. 88,9% PPG lapang pandang penuh memiliki kerusakan hemisfer serebri bilateral yang serupa, sedangkan 80% PPG lapang pandang setengah memiliki kerusakan hemisfer serebri unilateral atau bilateral yang asimetris nyata. Remisi neurologis, transisi ke status vegetatif, dan kematian masing-masing dilaporkan.
Analisis Gerakan Mata Mendetail pada Ocular Bobbing
Rekaman gerakan mata yang mendetail telah dilaporkan pada kasus yang mengalami ocular bobbing setelah perdarahan pontine1). Ocular bobbing disertai dengan osilasi pendulum, menunjukkan interaksi kompleks antara mekanisme saraf yang berbeda di batang otak. Pentingnya rekaman gerakan mata yang komprehensif ditekankan.