Pupil kecebong
Sekilas pandang
Section titled “Sekilas pandang”1. Apa itu pupil kecebong?
Section titled “1. Apa itu pupil kecebong?”Pupil kecebong (tadpole pupil / tadpole-shaped pupil) adalah penyakit langka paroksismal di mana sebagian iris tertarik menjadi bentuk runcing dan sempit, sehingga seluruh pupil berubah bentuk seperti kecebong. Secara esensial merupakan kondisi patologis yang sama dengan “midriasis unilateral episodik (episodic unilateral mydriasis)”, dan disebabkan oleh spasme sementara otot dilator pupil perifer akibat stimulasi sistem saraf simpatis.
Nama penyakit ini berasal dari laporan seri kasus pertama oleh Thompson dkk. pada tahun 1983 1. Hanya sekitar 45 kasus yang dilaporkan dalam literatur, menjadikannya penyakit yang sangat langka 2. Sering terlihat pada wanita muda sehat.
Hanya sekitar 45 kasus yang dilaporkan dalam literatur, menjadikannya penyakit yang sangat langka. Sering terjadi pada wanita muda sehat, dan belum ada uji coba acak terkontrol yang dilakukan.
2. Gejala utama dan temuan klinis
Section titled “2. Gejala utama dan temuan klinis”Gejala subjektif
Section titled “Gejala subjektif”- Fotofobia dan penglihatan kabur: Terjadi akibat midriasis unilateral sementara dan gangguan akomodasi.
- Sensasi aneh pada mata dan wajah: Serangan disertai sensasi abnormal pada mata dan wajah ipsilateral (72% kasus).
- Sakit kepala: Sakit kepala sering menyertai dan gejala mata biasanya muncul pada sisi yang sama dengan sakit kepala.
Temuan Klinis (temuan yang dikonfirmasi dokter saat pemeriksaan)
Section titled “Temuan Klinis (temuan yang dikonfirmasi dokter saat pemeriksaan)”Selama serangan, temuan khas berikut diamati:
- Deformasi pupil seperti kecebong: Pupil berubah bentuk menjadi oval, dengan ujung yang mendekati tepi kornea menyempit. Bagian yang menyempit (“ekor”) dapat muncul di arah mana pun pada permukaan jam.
- Refleks cahaya segmental yang buruk: Pada segmen iris yang melebar, kontriksi pupil terhadap cahaya buruk. Bagian pupil lainnya berkontriksi normal, mencerminkan aktivitas abnormal otot dilator iris (bukan sfingter iris).
- Gerakan seperti cacing pada iris: Gerakan seperti cacing (vermiform movements) pada iris dapat terlihat selama serangan, dan penting untuk dikonfirmasi.
Karakteristik Serangan
Section titled “Karakteristik Serangan”- Durasi: 79% serangan hilang dalam 5 menit. Sering berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam, tetapi kadang berlangsung berminggu-minggu12.
- Frekuensi dan perjalanan: Berulang beberapa kali sehari hingga beberapa kali setahun, berlangsung sekitar 1 tahun. Ada juga kasus dengan serangan cluster 10-50 kali sehari.
- Terjadi spontan: 91% terjadi secara spontan tanpa pemicu2.
- Lateralitas: 93% unilateral. 23% bergantian antara sisi kanan dan kiri. Jarang terjadi serangan bilateral.
- Prognosis: Sebagian besar kasus menghilang secara spontan, tetapi kadang kambuh.
79% serangan hilang secara spontan dalam 5 menit. Namun, sebagian besar berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam, dan jarang berlangsung berminggu-minggu. Serangan cluster 10-50 kali sehari dapat terjadi.
3. Penyebab dan Faktor Risiko
Section titled “3. Penyebab dan Faktor Risiko”Patofisiologi pupil kecebong dianggap sebagai kejang sementara pada otot dilator pupil perifer akibat stimulasi sistem saraf simpatis. Kejang segmental pada otot dilator pupil menyebabkan sebagian pupil melebar dan berubah bentuk menjadi tidak beraturan atau seperti tetesan air.
Hipotesis mengenai mekanisme penyakit berikut telah diajukan:
- Hipersensitivitas denervasi: Tingginya angka koinsidensi dengan sindrom Horner (42% pada Thompson 1983, 46% pada tinjauan Udry 2019) menunjukkan bahwa hipersensitivitas denervasi saraf simpatis okular berperan12. Pada sindrom Horner, reseptor α1 meningkat karena hipersensitivitas denervasi.
- Peningkatan katekolamin: Kasus di mana olahraga atau bangun tidur menjadi pemicu serangan menunjukkan peran peningkatan katekolamin dalam sirkulasi darah.
Pemicu dan penyakit terkait berikut telah dilaporkan, namun faktor risiko yang diketahui belum diidentifikasi:
- Pemicu: Migrain, menstruasi, bangun tidur, olahraga, operasi strabismus, kejang akibat hiponatremia
- Penyakit penyerta: Sindrom Horner (paling sering, sekitar 42% kasus), pupil Adie
Perlu dicatat bahwa dalam kasus yang jarang, dapat terjadi kasus serius terkait aneurisma atau perkembangan menjadi sindrom Horner.
Migrain, menstruasi, bangun tidur, dan olahraga telah dilaporkan sebagai pemicu, namun faktor risiko spesifik belum ditetapkan. 91% serangan terjadi secara spontan tanpa pemicu.
4. Diagnosis dan Metode Pemeriksaan
Section titled “4. Diagnosis dan Metode Pemeriksaan”Diagnosis didasarkan pada riwayat medis dan temuan klinis khas berupa kontraksi paroksismal otot dilator pupil. Karena jarang dokter menyaksikan serangan secara langsung, rekaman serangan dengan ponsel pintar berguna untuk diagnosis.
Penyakit yang perlu dibedakan adalah sebagai berikut:
- Midriasis unilateral episodik jinak (benign episodic unilateral mydriasis)345
- Sindrom Horner
- Pupil Adie (tonik pupil)
- Pupil Argyll Robertson
- Paparan unilateral terhadap obat midriatik
- Migrain oftalmik
- Koloboma iris
- Cedera sfingter iris (pasca trauma/pasca operasi)
- Uveitis anterior
- Paralisis saraf okulomotor periodik
Tes farmakologis
Section titled “Tes farmakologis”Dua jenis tes tetes mata digunakan untuk diagnosis banding.
| Tes | Tujuan | Penilaian |
|---|---|---|
| Tes tetes pilokarpin konsentrasi rendah (0,125%) | Mengeksklusikan pupil Adie | Miosis berlebihan → Pupil Adie |
| Tes tetes apraklonidin 1% (Iopidine) | Deteksi sindrom Horner | Midriasis dan pembalikan anisokoria setelah 30-60 menit → Sindrom Horner |
Prinsip tes apraklonidin: Pada sindrom Horner, terjadi peningkatan reseptor α1 karena hipersensitivitas denervasi, sehingga apraklonidin yang biasanya menyebabkan miosis sebagai agonis reseptor α2, malah menyebabkan midriasis melalui reseptor α1, dan anisokoria terbalik. Perlu dicatat bahwa tes apraklonidin tidak ditanggung asuransi.
Pemeriksaan Lainnya
Section titled “Pemeriksaan Lainnya”- Pemeriksaan sistemik: Lakukan pencitraan otak dan dada jika diperlukan.
- Pemeriksaan neuro-oftalmologi lengkap: Evaluasi warna iris (heterokromia iris → Horner kongenital, atrofi iris → traumatik, defek transiluminasi), simetri kelopak mata, dan gerakan mata.
5. Terapi Standar
Section titled “5. Terapi Standar”Tidak diperlukan terapi khusus untuk pupil tadpole, dan penanganan simptomatik sudah cukup. Tidak diperlukan manajemen medis atau bedah. Tidak ada komplikasi yang diketahui, dan penting untuk meyakinkan pasien bahwa jika sindrom Horner telah dieksklusikan, tidak akan ada efek buruk jangka panjang pada penglihatan.
Jika disertai sakit kepala, lakukan terapi sakit kepala.
Tidak diperlukan pengobatan khusus, hanya penanganan simtomatik. Sebagian besar kasus adalah penyakit jinak yang menghilang secara spontan. Namun, karena sindrom Horner menyertai sekitar 42% kasus, penting untuk menyingkirkan komplikasi tersebut melalui tes apraklonidin seperti yang dijelaskan pada bagian Diagnosis dan Metode Pemeriksaan.
6. Fisiopatologi dan Mekanisme Terperinci
Section titled “6. Fisiopatologi dan Mekanisme Terperinci”Mekanisme fisiopatologis yang tepat dari pupil kecebong belum diketahui, namun pemahaman saat ini adalah sebagai berikut:
Latar Belakang Anatomi Jalur Simpatis Okular: Sistem saraf simpatis dimulai dari hipotalamus melalui rantai tiga neuron, dan akhirnya melalui saraf siliaris panjang mempersarafi otot dilatator pupil dan otot levator palpebra superior. Pada pupil kecebong, diduga terjadi aktivasi abnormal sementara (kejang) pada saraf simpatis perifer di sepanjang jalur ini.
Mekanisme Kejang Segmental: Karena sebagian segmen otot dilatator pupil mengalami kejang secara selektif, hanya sebagian pupil yang melebar, menyebabkan deformasi tidak melingkar seperti tetesan air. Pada segmen yang melebar, kontriksi pupil terhadap cahaya buruk, sementara sisa pupil berkontriksi normal. Ini menunjukkan bahwa lesi berada pada otot dilatator pupil, bukan sfingter pupil.
Hubungan dengan Sindrom Horner: Karena sindrom Horner menyertai sekitar 42-46% kasus 12, telah diajukan hipotesis bahwa hipersensitivitas denervasi (denervation hypersensitivity) berperan. Peningkatan reseptor α1 setelah denervasi dapat memudahkan terjadinya kejang kuat meskipun dengan rangsangan simpatis ringan.
Hipotesis Katekolamin: Karena serangan dipicu oleh situasi peningkatan katekolamin sirkulasi seperti olahraga atau bangun tidur, ada hipotesis bahwa katekolamin memicu kejang otot dilatator 2. Fisiopatologi yang tepat merupakan bidang yang menunggu akumulasi kasus dan penelitian lebih lanjut.
Referensi
Section titled “Referensi”Footnotes
Section titled “Footnotes”-
Thompson HS, Zackon DH, Czarnecki JS. Tadpole-shaped pupils caused by segmental spasm of the iris dilator muscle. Am J Ophthalmol. 1983;96(4):467-477. PMID: 6624828. doi:10.1016/s0002-9394(14)77910-3 ↩ ↩2 ↩3 ↩4
-
Udry M, Kardon RH, Sadun F, Kawasaki A. The Tadpole Pupil: Case Series With Review of the Literature and New Considerations. Front Neurol. 2019;10:846. PMID: 31481920. doi:10.3389/fneur.2019.00846 ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6
-
Jacobson DM. Benign episodic unilateral mydriasis. Clinical characteristics. Ophthalmology. 1995;102(11):1623-1627. PMID: 9098253 ↩
-
Woods D, O’Connor PS, Fleming R. Episodic unilateral mydriasis and migraine. Am J Ophthalmol. 1984;98(2):229-234. PMID: 6476048 ↩
-
Seibold A, Barnett J, Stack L, Lei C. Benign Episodic Mydriasis as a Cause of Isolated Anisocoria. Clin Pract Cases Emerg Med. 2023;7(2):113-114. PMID: 37285496. PMC: PMC10247168. doi:10.5811/cpcem.1316 ↩