Dermatochalasis Palpebra
1. Apa itu Dermatochalasis?
Section titled “1. Apa itu Dermatochalasis?”
Dermatochalasis adalah kondisi di mana kulit berlebih pada kelopak atas menggantung melewati tepi kelopak meskipun MRD-1 (jarak refleks kornea ke tepi kelopak atas) ≥3,5 mm, yaitu tanpa ptosis. Disebut juga “kulit kendur” 12.
Nilai normal MRD-1 adalah 3,5–5,5 mm; nilai yang terjaga ini merupakan titik pembeda esensial dari ptosis 1.
Klasifikasi
Section titled “Klasifikasi”Dermatochalasis dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan ada tidaknya ptosis bersamaan.
| Tipe | Karakteristik | MRD-1 |
|---|---|---|
| Tipe terisolasi | Hanya kulit berlebih. Fungsi levator normal | ≥3,5 mm |
| Tipe dengan ptosis | Kulit berlebih disertai penurunan MRD-1 dan penurunan fungsi levator | <3,5 mm |
Pada lansia, frekuensi tipe yang disertai ptosis lebih tinggi dibandingkan tipe tunggal. Karena kelebihan kulit dan penurunan fungsi levator terjadi bersamaan, penting untuk mengevaluasi keduanya secara akurat saat pemeriksaan.
Epidemiologi
Section titled “Epidemiologi”Perubahan terkait penuaan sering ditemukan. Kulit kelopak mata menipis dan kehilangan elastisitas seiring bertambahnya usia, dan tarikan gravitasi yang terus-menerus menyebabkan terbentuknya kulit berlebih. Pada lansia, sering ditemukan kasus yang disertai ptosis. Data epidemiologi rinci mengenai prevalensi dan distribusi usia masih terbatas.
Pada dermatochalasis, MRD-1 tetap ≥3,5 mm, dan kulit berlebih semata-mata menyebabkan kulit menggantung melewati tepi kelopak mata. Ptosis adalah kondisi dengan MRD-1 <3,5 mm, yang disebabkan oleh penurunan fungsi levator. Namun, pada lansia, kedua kondisi sering terjadi bersamaan, sehingga pengukuran MRD-1 dengan menahan alis saat pemeriksaan penting untuk membedakan keduanya.
2. Gejala Utama dan Temuan Klinis
Section titled “2. Gejala Utama dan Temuan Klinis”Gejala Fungsional
Section titled “Gejala Fungsional”- Penyempitan lapang pandang atas: Kulit berlebih yang menutupi area pupil menyebabkan gangguan lapang pandang. Hal ini bermanifestasi sebagai kesulitan melihat perbedaan ketinggian dalam aktivitas sehari-hari serta gangguan saat membaca atau bekerja dengan komputer3.
- Rasa berat pada kelopak mata: Beratnya kulit berlebih menyebabkan rasa lelah saat membuka mata. Gejala cenderung memburuk saat membaca atau bekerja dalam waktu lama.
- Nyeri bahu dan kaku leher serta nyeri dahi: Secara kompensasi, alis terangkat, dan kontraksi terus-menerus otot frontalis menyebabkan nyeri bahu, nyeri leher-bahu, dan sakit kepala tegang di dahi4.
Gejala Kulit
Section titled “Gejala Kulit”- Dermatitis di kantus lateral: Kulit atas dan bawah bersentuhan di sudut mata luar (kantus lateral), menciptakan lingkungan lembab dan gesekan yang menyebabkan dermatitis kronis.
- Air mata mengalir dari kantus lateral: Kontak kulit di kantus lateral menghambat drainase air mata dan dapat menyebabkan epifora.
Temuan Klinis
Section titled “Temuan Klinis”- Kulit berlebih pada kelopak mata atas yang menggantung: Kulit menggantung melewati tepi kelopak mata, terkadang menutupi lipatan kelopak mata.
- Pertahankan MRD-1 ≥3,5 mm: Ini adalah kriteria konfirmasi bahwa ini bukan ptosis sejati.
- Elevasi alis kompensasi: Ketegangan otot frontalis menyebabkan posisi alis naik, sehingga posisi kelopak mata atas tampak normal.
- Kerutan di dahi: Terbentuk akibat kontraksi otot frontalis jangka panjang.
- Lipatan kulit saat melihat ke atas: Kulit berlebih dapat terlipat ke area pupil dan menghalangi lapang pandang.
3. Diagnosis dan Metode Pemeriksaan
Section titled “3. Diagnosis dan Metode Pemeriksaan”Poin Penting dalam Pemeriksaan
Section titled “Poin Penting dalam Pemeriksaan”Jika terdapat elevasi alis kompensasi, MRD-1 tampak normal. Oleh karena itu, pengukuran MRD-1 saja mungkin tidak akurat menilai jumlah kulit berlebih.
Untuk menilai kulit berlebih, tekan perlahan kelopak mata atas dengan jari agar alis tidak terangkat, lalu minta pasien melihat lurus ke depan. Ukur MRD-1 dalam kondisi ini untuk menentukan adanya ptosis.
Dengan jari, tekan perlahan kelopak mata atas untuk mencegah pengangkatan alis kompensasi, lalu minta pasien melihat lurus ke depan dan ukur MRD-1. Jika MRD-1 ≥3,5 mm dan kulit berlebih melampaui tepi kelopak mata, diagnosis dermatochalasis ditegakkan. Jika MRD-1 ≤2 mm, pertimbangkan ptosis yang menyertai dan evaluasi operasi ptosis bersamaan.
Penentuan Indikasi Operasi Berdasarkan MRD-1
Section titled “Penentuan Indikasi Operasi Berdasarkan MRD-1”Berdasarkan nilai MRD-1 yang diukur, indikasi operasi dan pemilihan teknik operasi ditentukan sebagai berikut.
| Nilai MRD-1 | Penilaian Klinis | Teknik Operasi yang Direkomendasikan |
|---|---|---|
| 3–3,5 mm | Dermatochalasis saja | Eksisi kulit saja |
| 2 mm atau kurang | Kemungkinan besar disertai ptosis | Pertimbangkan operasi ptosis juga |
Item Evaluasi Tambahan
Section titled “Item Evaluasi Tambahan”- Pengukuran fungsi levator (levator function/LF): Ukur jarak pergerakan tepi kelopak mata dari pandangan ke bawah ke pandangan ke atas sambil menekan alis. Normal ≥10 mm. <4 mm menunjukkan penurunan fungsi levator yang berat.
- Evaluasi gangguan lapang pandang atas: Konfirmasi bahwa kulit berlebih merupakan penyebab objektif gangguan lapang pandang berguna untuk menentukan indikasi operasi.
4. Diagnosis Banding
Section titled “4. Diagnosis Banding”Penyakit utama yang harus dibedakan dari dermatochalasis adalah sebagai berikut.
- Ptosis (aponeurotik, kongenital, dll.) : MRD-1 < 3,5 mm dengan penurunan fungsi levator. Perbedaan dengan dermatochalasis adalah fisura palpebra yang sempit meskipun tidak ada kulit berlebih. Ptosis aponeurotik involusional adalah ptosis didapat paling umum pada lansia, ditandai dengan elevasi/hilangnya lipatan palpebra superior dan cekungan palpebra superior.
- Pseudo-ptosis : MRD-1 normal tetapi tampak ptosis akibat kulit kendur. Secara konseptual tumpang tindih dengan dermatochalasis.
- Brow ptosis : Penurunan posisi alis menyebabkan kulit berlebih palpebra superior tampak relatif bertambah. Dibedakan dengan evaluasi posisi alis.
5. Terapi Standar
Section titled “5. Terapi Standar”5-1. Indikasi Operasi
Section titled “5-1. Indikasi Operasi”Indikasi operasi adalah adanya gangguan fungsi akibat kulit berlebih (penyempitan lapang pandang superior). Pilih teknik operasi dengan merujuk pada penilaian indikasi operasi berdasarkan MRD-1.
Setelah operasi, dapat muncul pembengkakan kelopak mata yang menyebabkan kondisi seperti ptosis sementara. Oleh karena itu, jika pasien sudah memiliki ptosis ringan sebelum operasi, pertimbangkan untuk melakukan operasi ptosis bersamaan setelah berkonsultasi dengan pasien.
5-2. Eksisi kulit tepi kelopak mata (blepharoplasty standar)
Section titled “5-2. Eksisi kulit tepi kelopak mata (blepharoplasty standar)”Ini adalah prosedur standar untuk memotong kelebihan kulit dari garis insisi lipatan kelopak mata12.
Keuntungan:
- Pada kasus dengan ptosis, aponeurosis levator dan otot Müller dapat diakses dari bidang operasi yang sama.
- Karena reseksi aponeurosis levator dapat dilakukan bersamaan, kulit kendur dan ptosis dapat diobati dalam satu operasi.
- Ada keuntungan kosmetik berupa pembuatan garis lipatan kelopak mata baru.
Kekurangan:
- Pada kelopak mata atas dengan jaringan anterior dan kulit yang tebal, lipatan kelopak mata ganda cenderung tampak tebal dan bengkak setelah operasi.
5-3. Eksisi kulit di bawah alis (brow-scar blepharoplasty)
Section titled “5-3. Eksisi kulit di bawah alis (brow-scar blepharoplasty)”Prosedur ini dilakukan dengan membuat sayatan di sepanjang tepi bawah alis dan mengangkat kulit berlebih 5. Pada orang Asia, pengangkatan kulit berlebih melalui sayatan di bawah alis (subbrow incision) telah dilaporkan sebagai metode yang efektif untuk menangani kulit berlebih berbentuk tudung di bagian luar sambil meminimalkan perubahan estetika 5.
Keuntungan:
- Kulit tipis di dekat tepi kelopak mata dapat dipertahankan, sehingga perubahan estetika setelah operasi minimal.
- Prosedur ini sangat menguntungkan untuk kelopak mata atas dengan kulit yang tebal.
- Bekas luka di bawah alis tersembunyi oleh alis, sehingga masalah estetika pascaoperasi jarang terjadi.
Pilihan operasi dua tahap:
Pada kelopak mata atas dengan kulit tebal, operasi dua tahap yang pertama-tama melakukan eksisi kulit di bawah alis (brow-scar blepharoplasty) dan kemudian menambahkan eksisi kulit pada lipatan kelopak (blepharoplasty lipatan) mungkin efektif. Dengan mengurangi ketebalan kulit pada tahap pertama dan membentuk lipatan kelopak pada tahap kedua, hasil kosmetik yang lebih alami dapat dicapai.
5-4. Ringkasan Pemilihan Teknik Operasi
Section titled “5-4. Ringkasan Pemilihan Teknik Operasi”
| Teknik Operasi | Indikasi Utama | Keuntungan | Kekurangan |
|---|---|---|---|
| Eksisi kulit tepi kelopak mata (blepharoplasty standar) | Kasus dengan ptosis palpebra bersamaan / pasien yang menginginkan pembentukan lipatan kelopak mata ganda | Dapat mengakses aponeurosis levator dan otot Müller, pembentukan lipatan kelopak mata ganda | Pada kulit tebal, sering meninggalkan rasa bengkak pasca operasi |
| Eksisi kulit di bawah alis (blepharoplasty dengan bekas luka di alis) | Kasus dengan kulit tebal / kasus yang ingin meminimalkan perubahan penampilan kosmetik | Mempertahankan kulit tipis di dekat tepi kelopak mata, sedikit perubahan penampilan pasca operasi | Bekas luka tertinggal di bawah alis, sulit melakukan manipulasi otot levator |
Perhatian terhadap Ptosis Palpebra Sementara Pascaoperasi
Pascaoperasi, dapat terjadi kondisi seperti ptosis sementara akibat pembengkakan kelopak mata. Jika terdapat ptosis ringan sebelum operasi, eksisi kulit saja mungkin tidak cukup untuk perbaikan. Penting untuk berdiskusi secara menyeluruh dengan pasien mengenai kombinasi operasi ptosis sebelum operasi.
Ada dua teknik operasi: eksisi kulit tepi kelopak (standard blepharoplasty) dan eksisi kulit di bawah alis (brow-scar blepharoplasty). Pada kasus dengan ptosis, pendekatan melalui eksisi tepi kelopak ke aponeurosis levator memungkinkan operasi ptosis simultan. Pada kasus dengan kulit tebal, eksisi di bawah alis lebih menguntungkan secara kosmetik dan memberikan perubahan kesan pascaoperasi yang lebih sedikit.
Karena perubahan terkait usia merupakan penyebab utama, kemungkinan relaksasi kulit berulang dalam hitungan tahun tetap ada. Namun, perbaikan fungsional dan kosmetik pascaoperasi umumnya baik, dan jarang memerlukan operasi ulang secara klinis.
6. Patofisiologi dan Mekanisme Terperinci
Section titled “6. Patofisiologi dan Mekanisme Terperinci”Perubahan Kulit Kelopak Mata Akibat Penuaan
Section titled “Perubahan Kulit Kelopak Mata Akibat Penuaan”Kulit kelopak mata dipengaruhi oleh penuaan dan paparan sinar ultraviolet, sehingga menimbulkan perubahan berikut.
- Penipisan kulit: Baik dermis maupun epidermis menipis, sehingga elastisitas dan ketegangan menurun.
- Degenerasi serat elastin: Serat elastin di dermis putus dan mengalami degenerasi, menyebabkan hilangnya elastisitas kulit.
- Degenerasi serat kolagen: Degenerasi dan reorganisasi serat kolagen menurunkan kekuatan tarik kulit.
- Degenerasi otot orbikularis: Atrofi dan degenerasi otot orbikularis menurunkan fungsi penyangga kelopak mata.
- Penurunan kadar air kulit: Bersamaan dengan penurunan fungsi sawar kulit, kadar air menurun, sehingga kulit menjadi lebih keras dan rapuh.
Perubahan-perubahan ini berkembang secara kompleks, yang bermanifestasi sebagai kulit kendur dan keriput.
Perubahan Jaringan Orbita
Section titled “Perubahan Jaringan Orbita”Sejalan dengan perubahan pada kelopak mata, perubahan terkait usia juga terjadi pada jaringan orbita.
- Relaksasi septum orbita: Relaksasi jaringan septum orbita melemahkan struktur pendukung kelopak mata atas.
- Atrofi lemak orbita: Atrofi jaringan lemak orbita menyebabkan kondisi mata cekung (sunken eye), dengan cekungan antara tepi atas tulang orbita dan bola mata.
- Penonjolan lemak orbita ke depan (hernia lemak): Pada beberapa kasus, relaksasi septum orbita menyebabkan lemak orbita menonjol ke depan, yang dapat membentuk tonjolan pada kelopak mata atas.
Mekanisme Kompensasi dan Efek Merugikannya
Section titled “Mekanisme Kompensasi dan Efek Merugikannya”Untuk mengkompensasi gangguan lapang pandang akibat kulit berlebih, terjadi pengangkatan alis secara kompensasi oleh otot frontalis. Mekanisme kompensasi ini mempertahankan lapang pandang dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang menimbulkan masalah berikut.
- Pembentukan kerutan di dahi: Kontraksi terus-menerus otot frontalis membentuk kerutan dalam.
- Nyeri leher dan bahu: Ketegangan berlebih otot frontalis menyebabkan ketegangan otot leher dan bahu.
- Sakit kepala tegang di dahi: Ketegangan otot di dahi menyebabkan sakit kepala kronis.
Jika terdapat elevasi alis kompensasi, MRD-1 tampak normal, sehingga evaluasi tanpa kompensasi sangat penting saat pemeriksaan.
7. Prognosis dan Perjalanan Penyakit
Section titled “7. Prognosis dan Perjalanan Penyakit”Hasil Pascaoperasi
Section titled “Hasil Pascaoperasi”Perbaikan kosmetik dan fungsional setelah operasi umumnya baik.
- Perbaikan gangguan lapang pandang: Eksisi kulit berlebih memperluas lapang pandang ke atas dan meningkatkan aktivitas sehari-hari3.
- Pengurangan dermatitis kantus lateral: Dermatitis pada kantus lateral membaik karena kontak kulit teratasi.
- Pengurangan nyeri bahu dan nyeri dahi: Karena pengangkatan alis kompensasi tidak diperlukan lagi, ketegangan otot frontal berkurang sehingga nyeri bahu dan nyeri dahi membaik4.
- Peningkatan sensitivitas kontras dan kualitas visual: Perbaikan signifikan dalam sensitivitas kontras telah dilaporkan terutama pada lansia, dan kualitas visual dapat membaik meskipun tidak ada perubahan pada ketajaman visual (desimal)6.
Perjalanan Jangka Panjang
Section titled “Perjalanan Jangka Panjang”Karena perubahan terkait usia merupakan esensi, relaksasi kulit dapat berlangsung lambat selama bertahun-tahun setelah operasi. Namun, kekambuhan pasca operasi yang mencapai tingkat yang bermasalah secara klinis relatif jarang terjadi.
Pada kasus dengan ptosis palpebra yang tidak menjalani operasi ptosis bersamaan, gejala ptosis dapat menjadi nyata setelah perbaikan sementara pasca reseksi kulit. Evaluasi akurat terhadap ptosis palpebra sebelum operasi dan pemilihan teknik operasi yang tepat penting untuk hasil jangka panjang yang baik.
8. Referensi
Section titled “8. Referensi”Footnotes
Section titled “Footnotes”-
Patel BC, Malhotra R. Upper Eyelid Blepharoplasty. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. [Updated 2023 Jul 24]. NBK537078. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537078/ ↩ ↩2 ↩3
-
Bhattacharjee K, Misra DK, Deori N. Updates on upper eyelid blepharoplasty. Indian J Ophthalmol. 2017;65(7):551-558. doi: 10.4103/ijo.IJO_540_17. PMID: 28724810. PMCID: PMC5549405. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28724810/ ↩ ↩2
-
Altin Ekin M, Karadeniz Ugurlu S. Prospective analysis of visual function changes in patients with dermatochalasis after upper eyelid blepharoplasty. Eur J Ophthalmol. 2020;30(5):978-984. doi: 10.1177/1120672119857501. PMID: 31203659. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31203659/ ↩ ↩2
-
Simsek IB. Association of upper eyelid ptosis repair and blepharoplasty with headache-related quality of life. JAMA Facial Plast Surg. 2017;19(4):293-297. doi: 10.1001/jamafacial.2016.2120. PMID: 28253391. PMCID: PMC5815105. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28253391/ ↩ ↩2
-
Lee D, Law V. Subbrow blepharoplasty for upper eyelid rejuvenation in Asians. Aesthet Surg J. 2009;29(4):284-288. doi: 10.1016/j.asj.2009.02.008. PMID: 19717059. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19717059/ ↩ ↩2
-
Nalcı H, Hoşal MB, Gündüz ÖU. Effects of upper eyelid blepharoplasty on contrast sensitivity in dermatochalasis patients. Turk J Ophthalmol. 2020;50(3):151-155. doi: 10.4274/tjo.galenos.2019.95871. PMID: 32631001. PMCID: PMC7338742. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32631001/ ↩